E. Lukito / 25 Juni 2020
Abad
isolasi sampai Restorasi Meiji
![]() |
| Tokugawa Shogunate |
Kedatangan
Komodor Pery dengan Armada Kapal Hitam di pelabuhan Edo Tokyo pada 8 Juli 1853 membuat orang-orang Jepang
terperangah kagum. Mereka tidak pernah melihat hal semacam itu sebelumnya,
meraka pikir kapal-kapal uap iu adalah ular-ular naga. Lebih terkejut lagi ketika mereka
tau kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan senjata ukuran besar.
Dengan
kekuatan Armada Kapal seperti itu membuat Perry Expedition secara paksa membuka perdagangan dunia barat
ke jepang, dan juga meruntuhkan Dinasti Tokugawa tahun 1868. Selama dua
setengah abad, jepang berada dalam politik Sakoku. Selama sakoku tidak ada
orang Jepang yang dapat meninggalkan negara karena adanya ancaman hukuman mati,
serta sangat sedikit warga negara asing yang diizinkan masuk dan berdagang di
negara Sakura ini pada saat itu.
Setelah
politik Sakoku berakhir Jepang memasuki era baru, era Restorasi Meiji dengan
semboyan Fukoku-kyohei (Negara yang Kaya dan Angkatan Bersenjata yang Kuat),
menjadi bangsa yang berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa Barat. Untuk mengejar
ketertinggalan dengan Barat, perombakan besar-besaran dilakukan pada setiap
aspek kehidupan Jepang.
Restorasi
Meiji membuat jepang menjadi negara Asia pertama yang sukses mengusung
industrialisasi. Kekuatan militer Jepang pun juga ikut tumbuh dan mendorong ekspansi
ke negara sekitar, China dan Korea. Itu menjadi faktor keikutsertaan Jepang di
Perang Dunia I & II.
Babak
belur pada Perang Dunia II dan terjadilah Keajaiban Ekonomi
Berbeda dengan
Perang dunia I, di Perang Dunia Kedua Jepang bergabung dengan kekuatan Poros
dengan Jerman dan Italia, kekalahan pun diterima mereka kali ini. Kota Tokyo,
Hiroshima, dan Nagasaki diluluhlantakan dengan bom oleh Amerika Serikat. Jepang
pun hancur lebur, ekonomi berantakan.
Jepang
pun harus harus segera membangun kembali negaranya. Dengan bantuan 500 juta
dollar per tahun oleh Amerika Serikat industri pun mulai bangkit. Bank-bank pun
diwajibkan untuk memberi pinjaman ke perusahaan penopang ekonomi Jepang:
Toyota, Nissan, Isuzu, Toyo Kogyo/Mazda, lalu 50an munculah raksasa baru Honda.
Jepang
memulai kemajuan ekonomi dengan mengimitasi produk-produk yang sudah ada di
pasar (itu yang dilakukan China sekarang). Mereka menirunya tapi mereka juga
meningkatkan kualitas produknya, pada akhirnya perusahaan Jepang malah mampu
berinovasi dan mengungguli produk-produk barat.
R.
Taggart dalam bukunya The Weight of The Yen menyebut bahwa kesuksesan Jepang
terletak pada kemapuannya mencanakan secara detail langkah-langkah bisnis yang
diambil untuk 20-50 tahun ke depan. Pada 1960 ekonomi Jepang telah pulih
seperti keadaan sebelum perang. Itu mengejutkan berbagai pihak, dan pertumbuhan
cepat terus berlangsung sampai dekade 90an.
Terjebak
dalam Pasir hisab
Dalam era
ekonomi digital saat ini kecepatan berinovasi adalah kunci. Tak sedikit
perusahaan tutup karena terlambat beradaptasi dengan kecepatan para kompetitor.
Di Jepang pun mayoritas perusahaan masih menerapkan budaya kerja lama mereka
yang lambat. Saya ambil contoh perusahaan Sony, Panasonic, Sanyo, Sharp, di
pasar elektronik mereka dihajar oleh LG dan Samsung dengan ritme budaya kerja
yang cepat.
Pada
tahun 1980 an, ekonomi Jepang digadang-gadang akan melampaui Amerika Serikat suatu saat nanti, ternyata
hal itu belum dapat terwujud. Kondisi ekonomi yang mencapai titik jenuh dan
populasi yang menua dengan regenerasi yang terlambat adalah penyebabnya.
Ekonomi Jepang
seperti terjebak dihisap oleh pasir selama beberapa dekade, dengan tingkat suku
bunga yang rendah, pertumbuhan minimal dan rasio utang tertinggi di G7. Itulah yang membuat Jepang disalip oleh China
sebagai ekonomi terbesar nomor dua di dunia sejak 2010. China menjadi penopang
ekonomi dunia saat ini.
Walaupun
begitu PDB Per Kapita Jepang masih lebih tinggi dibanding China yang masih
sibuk dengan urbanisasi dan jauh dari
pembangunan tingkat tinggi, tapi masih banyak potensi yang bisa diraih oleh
China. Beberapa faktor fundamental yang membuat melambatnya ekonomi jepang saat
ini.
1. Budaya
kerja lama
Perusahaan
Jepang terkenal dengan budaya Harmoni dan Konsesus. Manajemen perusahaan Jepang
bisa rapat bermnggu-minggu untuk menentukan produk apa selanjunya, dan ketika
selesai dengan rapatnya Samsung dan LG sudah melunjurkan produk baru. Budaya
lama tersebut yang membuat mereka tertinggal pada era saat ini yang membutuhkan
kecepatan.
2. Senioritas
yang tinggi
Sialnya
mayoritas perusahaan Jepang mementingkan senioritas dan budaya sungkan pada
atasan. Anda akan jarang menemukan Senior Manager di usia 30an, tidak ada yang
namanya Rising Star. Dalam era digital inovasi adalah kunci, padahal budaya
inovasi tidak kompatibel dengan senioritas. Pada akhirnya jalas, kematian.
3. Negaranya
orang-orang tua
Populasi Jepang berkurang hampir satu juta orang dari sejak
2010 hingga 2015. Tahun 2017, jumlah penduduk negara itu berkurang 227 ribu
orang. Pada periode yang sama, jumlah penduduk berusia di atas 65 tahun
mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 27% dan diperkirakan
meningkat sampai 40% pada 2050. Tingginya populasi penduduk Jepang berkorelasi dengan poin kedua.
Itulah
faktor fundamental yang mempengaruhi ekonomi Jepang. Tanpa ada perubahan yang
radikal pada tiga hal tersebut masa depan Japan Co akan menghadapi kematian.
Tapi dengan segala kekuranganya sekarang Jepang tetaplah Jepang yang dulu, Jepang
yang akan bangkit dari keterpurukan. Sayonara!

